Minggu 28 September kemarin, Gw akhirnya kelar juga nonton Laskar Pelangi the Movie setelah sebelumnya berdecak kagum ama perjuangan 10 anak Belitong yang dipaparin Anrea Hirata di buku pertama triologinya ..
Well, dihari ketiga pemutaran perdananya, Laskar Pelangi masih laris dimasyarakat, terbukti dari bioskop Plaza Semanggi yang penuh abis ama berbagai macam usia, dari orang tua sampe anak2..untung hal ini udah kami antisipasi dengan membeli tiket beberapa jam sebelum nonton.. yeah, both of us fell in love with that story since we read the book for the first time..
Then setelah selesai nonton,ada sedikit kekecewaan di hati Gw.. dimana apa yang gw harapin ternyata jauh ama apa yang udah dikemas ama Riri RIza dalam filmnya tersebut .. tp ya Mira Lesmana pernah bilang kalo isi film dibuat sama ama isi Novel ya buat apa dong dirilis filmnya,,. Hmm okelah, mungkin karna itu dibuat beda yah, tapi ada beberapa hal yang menurut gw kurang di ” tampilkan” di layar lebar, padahal sisi tersebut menurut gw bikin perjalanan hidup ke10 bocah tersebut makin menarik untuk dibaca..
Contohnya pada saat Kedatangan Harun dianggap sebagai “penyelamat” SD MUhammadiyah, di situ kurang dijelaskan kenapa ibunya Harun menyekolahkan anaknya yang mengalami latar belakang mental ke SD yang diperuntukkan buat anak2 normal.. sedangkan di novelnya dipaparkan kenapa
Harun disekolahkan disitu. Gw ga yakin kalo sebelumnya gw ga baca novelnya gw bisa nangkep keadaan si Harun tersebut selain dari ngeliat behaviornya dalam film tersebut
Dalam Film juga gak diceritain gimana si tomboy Flo bisa mengenal Mahar.. tiba2 saja mereka sudah berteman padahal di dalam novel mereka saling kenal setelah Mahar dan teman2 menemukan Flo yang “tersesat” didalam Hutan
Trus ada lagi, waktu anak2 Muhammadiyah memeragakan tarian Afrika, yang menurut gw gak sehebat apa yang dideskripsikan Andre dalam novelnya, dimana ada yang memerankan menjadi seekor binatang yang tengah di kepung oleh binatang buas lain..efek dari buah yang bikin anak 2 gatel2 dan heboh juga tidak terlalu ditampilkan dilayar lebarnya
Dalam Adegan Flo yang mengilang dan ditemukan di atas pohon, jelas adegannya dipotong sehingga rada gak nyambung ama adegan selanjutnya.. padahal itu penting buat gambarin kenapa akhirnya Flo bisa mengenal Laskar Pelangi dan dibolehin untuk bersekolah di sd Muhammadiyah oleh ayahnya yang petinggi PN Timah tersebut
Dilayar lebarnya juga tidak terlalu digambarkan kehidupan kawasan “Gedong” yang berbeda jauh ama kondisi penduduk asli setempat..yang paling ditekankan hanyalah perbedaan sekolah tempat anak2 PN dan SD Muhammadiyah.. hmm mungkin agak susah kali ya nemuin perumahan elit gaya Eropa seperti yang dideskripsikan oleh Andrea secara tertulis
Adegan saat Lintang harus berhenti sekolah untuk menjadi tulang punggung keluarga pasca ditinggal Ayahnya menurut gw adegan yang bikin emosi penonton jadi terhanyut.. termasuk gw yang gak bisa nahan airmata.. meskipun gw tau dalam novelnya Lintang harus menghidupi adik2 dan juga paman2nya yang menggantungkan kehidupan mereka padanya, jauh lebih berat dari apa yang digambarkan didalam layar lebarnya
Kisah Lintang yang akhirnya punya anak perempuan yang cerdas gw rasa cukup mengobati kehausan penonton Indonesia yang demen bgt ama Happy Ending, meskipun dalam Novelnya diceritakan kehidupan Lintang dan Trapani tidak semanis versi layar lebarnya
Aniway, Pemilihan pemeran para tokoh di layar lebar menurut gw udah bagus bgt, seluruh tokoh dewasa sepertinya memang udah berusaha sedemikian rupa menjadi penduduk Belitong tahun 1970 an.. pemeran tokoh laskar Pelangi juga menurut gw udah bagus bgt, apalagi pemeran tokoh Lintang, Harun yang idiot, dan Mahar yang genit bak pujangga dangdut yang menurut gw tOP bgt
untuk ukuran pendatang baru seperti mereka’
Then, Kehadiran layar lebar Laskar Pelangi menurut gw bagus bgt, karena berhasil bikin dunia perfileman kita yang saat ini masih dipenuhi ama roman2 yang berkisar tentang Cinta, Komedi berbau seks atau cerita hantu dalam berbagai bentuk “terbangun” dari pengaruh film2 ringan tersebut.. Gw harap, setelah Laskar Pelangi, akan ada film2 sederhana yang membuka mata kita
terhadap fenomena yang bena2 terjadi disekitar kita, bukan cuma mimpi2 yang menidurkan kita..